Pendosa Biadab (Oleh: Irene Rifdah)

Standard

Hari ketiga di Februari itu, aku pulang dari sekolah seperti biasanya. Rutinitas yang membosankan memang. Aku memasuki ruang tamu yang hanya berisi empat kursi dan satu meja berwarna coklat tua. Ya, itulah salah satu ruangan di rumahku. Tidak terlalu mewah, hanya bergaya minimalis bercorak rumah desa tidak jauh beda dengan rumah tetangga sebelah. Orang tuaku memang menginginkan hunian damai terbebas dari hiruk-pikuk kendaraan. Maklumlah, mereka berdua bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil yang hari-harinya mereka habiskan di tengah kota. Berangkat pagi pulang petang. Walaupun aku adalah anak tunggalnya, hanya beberapa jam aku bertemu mereka setiap hari.
“Aku pulang.” Ya, aku memang selalu mengucapkan salam walaupun aku tahu tidak akan ada yang menjawab. Namun ternyata terdengar suara dari dalam menjawab salamku. Bukankah itu suara….ibu? Kakiku melangkah dengan cepat ingin mencari kebenaran dari suara yang berdengung di telingaku. Ternyata benar. Ibu duduk di sofa empuknya yang katanya singgasana miliknya seorang. Ku pandangi sejenak. Dengan wajah ceria, ia tersenyum manis dengan lesung pipitnya yang nampak jelas. Tangan kanannya sibuk mengelus-elus perutnya.
“Ibu? Mengapa Ibu sudah berada di rumah? Bukankah seharusnya Ibu sedang bekerja saat ini?” tanyaku sambil mengerutkan dahi dan mendekat padanya.
“Ah.. Itu karena.. Ibu punya kabar gembira untukmu! Ibu akan memberimu seorang adik!” kini bibir Ibu tersenyum lebar sama seperti saat ia mengabariku tentang keberhasilannya berdesakan membeli baju diskon di Pasar Besar. Tidak. Kali ini senyumnya berbeda. Lebih bahagia dan gembira.
“Adik?” sekali lagi dahiku berkerut.
“Iya. Adik. Apa kau tidak suka?”
Kali ini ekspresinya berubah masam. Aku merasa bersalah telah mengubah ekspresi bahagianya tadi. Aku hanya diam mendengar pertanyaan itu. Ku langkahkan kakiku menuju kamarku.
Melempar tas ke kasur dan berbaring. Itu yang biasa dilakukan di semua drama yang pernah ku lihat. Mempraktekkannya memang mengasyikkan. Haha. Tapi apakah aku memang harus senang dengan kehadiran seorang adik? Yang aku tahu dari cerita teman-temanku, adik mereka sangat menyusahkan, suka rewel, manja, dan selalu usil. Ah, apa yang bisa ku harapkan dari seseorang dengan gambaran seperti itu? Lalu mengapa tadi Ibu kaget dengan tanggapan yang ku berikan? Apakah itu salah? Ah sudahlah. Lebih baik aku tidur. Aku lelah seusai pelajaran olahraga tadi.
———–
‘Kriiingg… Kriingg…’ suara jam weker kuno itu memekakkan telingaku. Walaupun sudah sepuluh tahun lebih aku memakainya, namun suara nyaringnya masih membuatku terkejut. Jam weker pemberian kakek itu ku simpan baik-baik sebagai kenangan darinya. Samar-samar ku dengar suara mereka, ayah dan ibu. Sorotan sinar berwarna kuning itu masuk melalui celah pintu kamarku. Tidak salah lagi, ini adalah sinar lampu kuning berdaya 15 watt yang baru dibeli kemarin sore. Ternyata sudah dipasang. Dengan mengendap-endap aku berjalan mendekati celah pintu yang sedikit terbuka itu. Ku tajamkan pendengaranku dan ku pejamkan mataku.
“Ada apa, Bu? Kok kelihatannya sedih? Bukankah seharusnya senang? Kita akan dapat momongan baru” ucap Ayah sembari mengelus punggung Ibu.
“Itu lo, Yah, Nisti tidak terlihat senang waktu Ibu bilang akan memberi dia adik. Malah wajahnya tampak sedih. Kenapa ya? Bukankah seharusnya dia senang?” kata Ibu lirih dengan ekspresinya yang sedih.
“Mungkin lama-kelamaan dia akan senang. Dia memang anak tunggal. Tidak pernah punya saudara. Paling hanya Yukita sepupunya. Jadi maklum kalau dia menolak keberadaan orang lain” ayah menenangkan Ibu dengan lembut. Memang dari dulu Ayah sangat pandai menenangkan orang lain. Wajahnya yang terlihat bijaksana membuat orang lain merasa nyaman dan bisa mempercayainya.
Tch. Ada apa dengan mereka? Apa ini merupakan masalah yang begitu besar hingga harus dibicarakan seperti itu? Aku tidak mau memikirkannya. Lebih baik ku lanjutkan mimpi indahku tadi. Bagaimana pun juga aku tidak ingin memiliki adik.
———-
“Menurutmu punya adik itu gimana? Apa ada keuntungannya?” tanyaku kepada Yukita saat istirahat sekolah.
Memang Yukita, sepupuku, juga kebetulan seumuran dan satu sekolah denganku walaupun berbeda kelas. Tapi kenyataannya aku lebih dekat dengannya daripada dengan teman sekelasku. Ia berbeda dari anak lain. Ya mungkin karena sejak kecil kita selalu bersama. Namun aku tidak membual soal perbedaannya dengan gadis lain di kelasku. Ia tidak banyak bicara. Tapi saat ia punya masalah, ia bercerita dengan penuh semangat. Semua ceritanya menurutku sangat menarik. Ya, memang ia adalah tipe anak yang hanya terbuka dengan orang yang sudah dikenalnya sejak lama. Sebenarnya ia tipe anak yang periang, tapi karena suatu kesalahpahaman, ia dikucilkan oleh teman sekelasnya. Ah, gadis seperti mereka memang bodoh. Bisa-bisanya mempercayai rumor tanpa mencari kebenarannya. Aku membenci mereka.
“Mm.. Adik ya? Aku tidak pernah punya saudara, jadi aku tidak tahu rasanya memiliki seorang adik. Jika pun aku harus menggambarkan, aku menganggapmu sebagai kakak. Jadi aku tidak bisa menjelaskan tentang bagaimana seorang adik. Tapi menurutku adik itu menjengkelkan. Suka mencari perhatian orang lain terutama orang tua kita. Lalu ia juga selalu meminta tolong pada kita walaupun sebenarnya ia juga bisa mengerjakannya sendiri.” jelasnya panjang lebar.
“Begitu kah? Ah. Baiklah. Terima kasih.”
Bel tanda waktu istirahat telah habis berbunyi. Aku bergegas meninggalkan kantin dan menuju kelas. Tch. Waktu-waktu yang membosankan itu akan dimulai lagi. Pelajaran berlangsung seperti biasa. Anak-anak yang memang aktif dan memiliki kemampuan adaptasi sosial yang tinggi memonopoli semua pertanyaan yang diberikan oleh guru. Sedangkan aku? Aku hanya mendengarkan musik dari headphoneku. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Aku juga tidak terlalu peduli dengan nilai akademik. Yang aku tahu aku bisa bertahan hidup di sekolah ini tanpa mendapatkan ranking 10 terbawah. Tapi kenyataannya aku selalu mendapat ranking 3 besar. Tuhan terlalu baik untuk mengabulkan keinginan manusia sepertiku.
———–
Bulan demi bulan berlalu. Rutinitas yang membosankan itu ku lalui tanpa tantangan atau halangan. Soal adik? Ah, aku tak menaruh peduli pada itu. Ibu sering mengambil cuti hanya untuk kontrol ke dokter. Entah iblis apa yang merasukiku hingga aku sangat acuh pada janin dalam perut Ibu itu. Mungkin tidak sepenuhnya salah Ibu hal itu bisa terjadi. Karena aku hanya menggunakan satu referensi mengenai ‘adik’, yaitu pendapat dari Yukita.
Sore itu aku sedang duduk-duduk di teras bersama Yukita. Seperti biasa, ia menceritakan banyak hal tentang kehidupan berwarna pelanginya. Tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Dengan cepat aku berlari menuju kamar mandi. Tapi tiba-tiba… BRAKK!! Sial. Aku menabrak sesuatu. Dengan kesal aku hendak memeriksa apa yang menabrakku. Ternyata Ibu yang tergeletak dengan begitu banyak darah keluar. Keringatnya bercucuran, ia mengerang begitu keras. Yukita yang mendengar erangan Ibu berlari menuju sumber suara.
“Ibu! Ibu! Argh.. Maafkan aku. Aku.. aku.. aku harus menelepon Ayah!” dengan cepat aku mengambil handphone yang memang selalu tersedia di dalam sakuku. Yukita begitu panik dan mulai menangis. Ahh.. ia membuat situasi bertambah runyam.
“Nisti… bagaimana ini?? Tante.. Tante.. mengapa ada banyak sekali darah?… Bagaimana jika—“
“Diamlah! Jika kau terus berisik aku takkan bisa berpikir dengan jernih! Halo? Halo? Ayah? Cepat datang ke rumah! Ibu.. mengeluarkan banyak darah! Apa yang harus aku lakukan?” teriakku di telepon. Sial! aku kehilangan kontrol emosiku. Aku panik, bingung, dan… Ah. Entahlah!
————
“Untuk keluarga Ibu Elisa telah diperkenankan untuk masuk” kata perawat berumur sekitar dua puluh itu kepada kami.
Aku dan ayah pun perlahan memasuki ruangan itu. Ibu tergolek lemah dengan banyak selang dan alat yang dipasang di tubuhnya. Apa ini? Seperti di drama. Aku tahu ini merupakan pertanda buruk. Hanya ku pandangi Ibuku. Wajah cantiknya kini berubah pucat pasi. Bibirnya tidak bisa menampakkan senyum padaku karena tertutup oleh benda transparan yang aku tahu untuk membantu pernafasan. Tidak terasa air mataku menetes. Apa yang telah ku lakukan? Kesalahan macam apa ini? Aku merasa… menjadi seorang pendosa yang takkan bisa termaafkan walaupun aku mengabdi kepada Tuhan seumur hidupku.
Ayah dipanggil oleh dokter yang memeriksa Ibu. Aku tahu tujuannya adalah untuk memberitahukan keadaan Ibu. Hatiku berteriak pada Tuhan semoga kabar baik yang ia sampaikan. Namun iblis itu kembali datang dan memberitahuku bahwa janin itu… akan… Sungguh aku ingin membunuh iblis hina itu.
“Ayah, apa katanya? Bagaimana keadaan Ibu? Ibu baik-baik saja bukan?” aku menyerang Ayah dengan sederet pertanyaan yang mengganjal hatiku. Ayah tersenyum.
“Jangan khawatir. Tidak akan ada yang berubah. Kita hanya perlu merawat Ibu dengan baik” ucap Ayah lirih dengan senyumnya yang aku tahu… itu palsu.
“Apa maksud Ayah?! Katakan dengan jelas! Ibu baik-baik saja bukan?! Dan.. Adik? Ia juga—“
“Kau pasti senang dengan kabar ini, Nisti. Adikmu telah pergi jauh bahkan sebelum ia tiba. Memang itu yang kau inginkan bukan? Ini merupakan kabar gembira. Kau tidak perlu mengeluh lagi soal kehadiran orang lain di hidupmu yang sendiri itu.”
Apa? Apa maksud ayah? Pergi sebelum tiba? Apa? Kabar gembira bagiku? Apa yang telah ku lakukan selama ini? Aku.. telah menjadi orang paling hina di dunia ini.
“Bayiku.. ia tidak apa-apa bukan?” samar-samar suara Ibu berdengung di telingaku. Sontak aku menoleh dan memandanginya. Ayah berlari menujunya dan menggenggam tangannya erat.
“Ibu.. tenanglah—“
“Ayah.. katakan! Katakan bahwa anak kita baik-baik saja!”
“Maaf, Elisa.. Tapi ia sudah pergi.”
“Apa?!?!?!? Itu tidak mungkin! Jangan membohongiku!”
Air mata Ibu mengalir begitu deras. Air matanya.. aku ingin menghentikannya. Tapi apakah bisa? Dengan tubuh dan pikiranku yang sudah lebih rendah dari binatang ini? Ibu menoleh dengan cepat ke arahku.
“Ini semua salahmu! Setiap malam kau pasti berdoa agar janin ini hilang bukan?! Kini kau bisa tertawa! Keinginanmu bisa terwujud!” bentak Ibu tanpa menghentikan air matanya yang mengalir deras.
“Tidak.. Ibu.. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Aku tidak pernah—“
“Diam! Jangan berani kau memanggilku Ibu! Kau bahkan bukan anak kandungku!”
“Elisa!!” teriak Ayah menggema. Apa? Apa maksudnya? Aku bukan anak kandung?
“Apa maksud Ibu?” tanyaku heran.
“Diamlah Ayah! Ini saatnya dia tahu bahwa ia bukan anak kandungku. Tapi hasil perselingkuhanmu dengan kakakku! Sudah lima belas tahun ini menjadi aib keluarga. Aku selalu mencoba menyayanginya sebisaku seperti anakku sendiri karena aku pun merasa bersalah tidak bisa memberimu keturunan. Tapi sekarang… sekarang aku takkan memberikan kasih sayangku pada anak congkak ini! Setelah sekian tahun aku menanti kehadiran anak kandungku, tapi anak haram ini malah menentang kodrat! Kehadiranmu di dunia ini adalah sebuah kesalahan! Keberadaanmu pun adalah sebuah dosa besar! Kau memang—“. Belum selesai Ibu melontarkan caciannya padaku, ia terlihat kesakitan. Ayah dan aku berlari untuk menenangkannya. Namun saat jariku menyentuhnya, Ibu langsung menghempaskannya.
“Jangan sentuh aku dengan tangan hinamu!” bentak Ibu.
Entah mengapa kakiku berlari keluar ruangan. Aku terus berlari dan berlari. Apa maksudnya? Aku bukan anak kandung Ibu? Aku anak haram? Aku anak hasil hubungan gelap ayahku dan kakak ibuku? Kehadiranku adalah sebuah dosa? Aku adalah keberadaan yang tak diinginkan? Kenyataan macam apa ini?!
Samar-samar ku dengar suara Yukita memanggil namaku. Ah, aku mulai membenci namaku. Aku menoleh padanya.
“Apa yang terjadi? Mengapa kau berlari? Mengapa kau menangis? Mengapa kau—“. Aku reflek memeluknya. Aku tak tau apa yang gadis ini katakan. Aku tak mau mendengarnya. Aku tak mau ia mengungkap lebih banyak kelemahanku. Aku tidak ingin mengingat betapa hinanya aku terlahir di dunia ini.
“Yukita, aku punya satu permintaan” kataku lirih dengan tanganku masih memeluknya dengan erat.
“Eh? Apa itu? Aku akan mengabulkannya sebisaku. Itu pasti! Aku akan membantumu. Walaupun aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku pasti akan—“
“Bunuh aku” jawabku singkat.
“Apa????? Kau sudah gila? Aku tidak mungkin—“ suara nyaringnya berdengung dengan keras di telingaku. Aku tidak mau banyak bicara dan akhirnya aku mengeluarkan pisau dari sakuku yang biasa ku gunakan untuk perlindungan diri. Ku genggamkan pisau itu di tangannya.
“Jangan banyak bicara! Cepat bunuh aku! Kehadiranku adalah sebuah dosa besar! Aku adalah anak haram! Aku harus—“
“Anak haram? Apa maksudmu?” tanyanya terheran.
“Aku adalah anak hasil hubungan gelap ayahku dan ibumu. Sekarang kau membenciku bukan? Tak apa. Aku juga sangat membenci diriku sendiri. Aku harusnya membunuh diriku sen—“
“Apa yang kau katakan? Bukankan itu tidak terlalu buruk? Kita memiliki hubungan darah. Kau bisa tinggal denganku. Kita bisa bermain bersama dan—“ Yukita menangis. Ku renggangkan pelukanku, ku pandangi wajahnya. Ia tersenyum. Senyu itu terlihat begitu menyakitkan, begitu hancur, begitu terpaksa. Aku tahu itu. Betapa bodohnya aku. Kenyataan ini tidak hanya pahit bagiku. Tapi juga baginya. Aku tahu hatinya hancur. Tapi ia masih tersenyum. Ia berusaha menenangkanku. Ia menutupi kelemahan dan kehancurannya.
“Maafkan aku. Aku takkan lari dari kenyataan ini. Aku akan menghadapinya. Terima kasih Yukita. Terima kasih”. Aku tersenyum dan melepas pelukanku.
Aku berjalan kembali menuju rumah sakit. Kini aku akan menghadapi kenyataannya. Ku genggam tangan Yukita. Tibalah aku di depan kamar Ibu. Aku tahu semua resikonya. Aku akan dibentak, dicaci, dipermalukan. Tapi aku sudah mempersiapkannya. Ku lepaskan tangan Yukita perlahan. Aku melangkah masuk. Ku lihat Ibu yang berbaring lemah dengan Ayah yang masih setia berada di sampingnya. Baru selangkah aku memasuki ruang itu, dengan cepat Ibu menoleh ke arahku.
“Masih berani kau muncul di hadapanku?!” bentak Ibu. Ayah kaget dan melangkah menujuku. Ia berusaha menggiringku keluar. Namun aku menolaknya.
“Aku tidak akan lari dari kenyataan, Ayah. Aku akan menghadapinya. Ibu, aku tahu Ibu sangat membenciku. Bahkan tidak sudi ku panggil Ibu. Tapi kali ini biarkan aku bicara. Mungkin keberadaanku di dunia ini memang kesalahan dan dosa. Tapi aku bisa hidup sampai saat ini semuanya berkat Ibu dan Ayah yang telah membesarkanku. Walaupun aku tahu aku bahkan bukan anak kandung Ibu, tapi dengan Ibu membiarkan aku bernafas di dunia ini, merasakan kebahagiaan di dunia yang seharusnya tak membiarkanku hadir, itu sudah cukup membuatku bersyukur. Bahkan jika saat ini Ibu akan membuangku, aku takkan melupakan kebaikan saat Ibu merawatku. Aku hanya ingin berterimakasih. Dan.. maafkan aku.”
Aku berjalan mendekat menuju Ibu. Ku raih tangannya dan ku cium. Namun Ibu menarik tangannya. Aku hanya memandanginya nanar. Ah, aku tahu ini akan terjadi. Aku sudah siap untuk menanggung resiko ini. Aku hanya membalas perbuatan itu dengan senyum.
———
“Aku akan pulang terlebih dulu, Ibuku akan pulang hari ini.” teriakku pada Yukita saat bel pulang sekolah berbunyi.
“Oh, baiklah. Hati-hati di jalan!” jawabnya disertai lambaian tangannya.
Aku berlari pulang dengan hati gembira. Walaupun aku tahu aku takkan bisa membohongi perasaanku bahwa Ibu masih membenciku.
“Aku pulang” dengan gembira aku memasuki rumah itu. Ibu telah menyambutku saat aku masuk. Aku begitu senang. Namun.. ada yang berbeda. Mengapa.. Ibu membawa pisau?
“Ibu? Apa yang Ibu lakukan? Mengapa Ibu membawa pisau? Apa itu akan digunakan untuk mengupas buah?” Ibu semakin mendekat dan mengarahkan pisau itu ke arahku. Aku pun semakin mundur. Apa ini? Mengapa terjadi situasi seperti ini?
“Kau telah membunuh janinku. Anak pertamaku, anak kandungku, nyawaku, belahan jiwaku, dan segalanya! Sekarang kau masih berani menampakkan wajahmu di depan mataku? Hah! Jangan bercanda! Kau harus mati, anak haram!”
Tidak. Ibu akan membunuhku. Aku tidak ingin mati. Tidak. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikannya! Tidak!
“Argh!!!!! Kau..” Apa? Aku mendengar suara teriakan. Mataku terpejam. Seharusnya aku yang mati. Seharusnya aku yang berteriak. Tapi mengapa yang ku dengar adalah suara Ibu? Perlahan ku buka mataku. Telingaku tak bisa mendengarkan apapaun. Yang aku lihat hanya ekspresi Ibu yang kesakitan. Mengapa Ibu kesakitan? Apa yang…. Mataku terbelalak melihat gunting berwarna hitam itu telah menancap di perut Ibu. Itu guntingku. Bagaimana bisa? Ternyata tanganku yang memegangnya. Apa ini? Tidak mungkin! Aku.. membunuh Ibu. Tidak! Dosaku semakin banyak! Aku tidak sanggup menahan semua ini! Lebih baik ku akhiri hidupku!
Muncratan darah itu begitu banyak. Ku pandangi tanganku yang berlumuran darah. Ternyata ini akhirnya. Ya, seorang pendosa biadab sepertiku harus mati dengan cara seperti ini. Dunia ini tidak menerimaku. Ku pandangi dinding rumahku itu. Disini tempat ku di besarkan. Disini pula aku mati. Ini lah yang benar. Pandanganku semakin buram. Dan.. ah. Gelap. Semuanya hitam. Penderitaan ini…sudah berakhir.
—TAMAT—
ya. sekian cerpen buatanku yang berlatarbelakang untuk mengumpulkan tugas. semoga menghibur. mohon untuk meninggalkan komentar demi meningkatnya kualitas cerpen yang saya buat nanti. terima kasih..😀

About Irene Rifdah

Saya adalah seorang manusia biasa yang menjalankan kehidupan normal biasa dan saat ini sedang mengenyam pendidikan di SMAN 3 Malang. Terima kasih telah mengunjungi blog sederhana ini. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s