Pendosa Biadab (Oleh: Irene Rifdah)

Standard

Hari ketiga di Februari itu, aku pulang dari sekolah seperti biasanya. Rutinitas yang membosankan memang. Aku memasuki ruang tamu yang hanya berisi empat kursi dan satu meja berwarna coklat tua. Ya, itulah salah satu ruangan di rumahku. Tidak terlalu mewah, hanya bergaya minimalis bercorak rumah desa tidak jauh beda dengan rumah tetangga sebelah. Orang tuaku memang menginginkan hunian damai terbebas dari hiruk-pikuk kendaraan. Maklumlah, mereka berdua bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil yang hari-harinya mereka habiskan di tengah kota. Berangkat pagi pulang petang. Walaupun aku adalah anak tunggalnya, hanya beberapa jam aku bertemu mereka setiap hari.
“Aku pulang.” Ya, aku memang selalu mengucapkan salam walaupun aku tahu tidak akan ada yang menjawab. Namun ternyata terdengar suara dari dalam menjawab salamku. Bukankah itu suara….ibu? Kakiku melangkah dengan cepat ingin mencari kebenaran dari suara yang berdengung di telingaku. Ternyata benar. Ibu duduk di sofa empuknya yang katanya singgasana miliknya seorang. Ku pandangi sejenak. Dengan wajah ceria, ia tersenyum manis dengan lesung pipitnya yang nampak jelas. Tangan kanannya sibuk mengelus-elus perutnya.
“Ibu? Mengapa Ibu sudah berada di rumah? Bukankah seharusnya Ibu sedang bekerja saat ini?” tanyaku sambil mengerutkan dahi dan mendekat padanya.
“Ah.. Itu karena.. Ibu punya kabar gembira untukmu! Ibu akan memberimu seorang adik!” kini bibir Ibu tersenyum lebar sama seperti saat ia mengabariku tentang keberhasilannya berdesakan membeli baju diskon di Pasar Besar. Tidak. Kali ini senyumnya berbeda. Lebih bahagia dan gembira.
“Adik?” sekali lagi dahiku berkerut.
“Iya. Adik. Apa kau tidak suka?”
Kali ini ekspresinya berubah masam. Aku merasa bersalah telah mengubah ekspresi bahagianya tadi. Aku hanya diam mendengar pertanyaan itu. Ku langkahkan kakiku menuju kamarku.
Melempar tas ke kasur dan berbaring. Itu yang biasa dilakukan di semua drama yang pernah ku lihat. Mempraktekkannya memang mengasyikkan. Haha. Tapi apakah aku memang harus senang dengan kehadiran seorang adik? Yang aku tahu dari cerita teman-temanku, adik mereka sangat menyusahkan, suka rewel, manja, dan selalu usil. Ah, apa yang bisa ku harapkan dari seseorang dengan gambaran seperti itu? Lalu mengapa tadi Ibu kaget dengan tanggapan yang ku berikan? Apakah itu salah? Ah sudahlah. Lebih baik aku tidur. Aku lelah seusai pelajaran olahraga tadi.
———–
‘Kriiingg… Kriingg…’ suara jam weker kuno itu memekakkan telingaku. Walaupun sudah sepuluh tahun lebih aku memakainya, namun suara nyaringnya masih membuatku terkejut. Jam weker pemberian kakek itu ku simpan baik-baik sebagai kenangan darinya. Samar-samar ku dengar suara mereka, ayah dan ibu. Sorotan sinar berwarna kuning itu masuk melalui celah pintu kamarku. Tidak salah lagi, ini adalah sinar lampu kuning berdaya 15 watt yang baru dibeli kemarin sore. Ternyata sudah dipasang. Dengan mengendap-endap aku berjalan mendekati celah pintu yang sedikit terbuka itu. Ku tajamkan pendengaranku dan ku pejamkan mataku.
“Ada apa, Bu? Kok kelihatannya sedih? Bukankah seharusnya senang? Kita akan dapat momongan baru” ucap Ayah sembari mengelus punggung Ibu.
“Itu lo, Yah, Nisti tidak terlihat senang waktu Ibu bilang akan memberi dia adik. Malah wajahnya tampak sedih. Kenapa ya? Bukankah seharusnya dia senang?” kata Ibu lirih dengan ekspresinya yang sedih.
“Mungkin lama-kelamaan dia akan senang. Dia memang anak tunggal. Tidak pernah punya saudara. Paling hanya Yukita sepupunya. Jadi maklum kalau dia menolak keberadaan orang lain” ayah menenangkan Ibu dengan lembut. Memang dari dulu Ayah sangat pandai menenangkan orang lain. Wajahnya yang terlihat bijaksana membuat orang lain merasa nyaman dan bisa mempercayainya.
Tch. Ada apa dengan mereka? Apa ini merupakan masalah yang begitu besar hingga harus dibicarakan seperti itu? Aku tidak mau memikirkannya. Lebih baik ku lanjutkan mimpi indahku tadi. Bagaimana pun juga aku tidak ingin memiliki adik.
———-
“Menurutmu punya adik itu gimana? Apa ada keuntungannya?” tanyaku kepada Yukita saat istirahat sekolah.
Memang Yukita, sepupuku, juga kebetulan seumuran dan satu sekolah denganku walaupun berbeda kelas. Tapi kenyataannya aku lebih dekat dengannya daripada dengan teman sekelasku. Ia berbeda dari anak lain. Ya mungkin karena sejak kecil kita selalu bersama. Namun aku tidak membual soal perbedaannya dengan gadis lain di kelasku. Ia tidak banyak bicara. Tapi saat ia punya masalah, ia bercerita dengan penuh semangat. Semua ceritanya menurutku sangat menarik. Ya, memang ia adalah tipe anak yang hanya terbuka dengan orang yang sudah dikenalnya sejak lama. Sebenarnya ia tipe anak yang periang, tapi karena suatu kesalahpahaman, ia dikucilkan oleh teman sekelasnya. Ah, gadis seperti mereka memang bodoh. Bisa-bisanya mempercayai rumor tanpa mencari kebenarannya. Aku membenci mereka.
“Mm.. Adik ya? Aku tidak pernah punya saudara, jadi aku tidak tahu rasanya memiliki seorang adik. Jika pun aku harus menggambarkan, aku menganggapmu sebagai kakak. Jadi aku tidak bisa menjelaskan tentang bagaimana seorang adik. Tapi menurutku adik itu menjengkelkan. Suka mencari perhatian orang lain terutama orang tua kita. Lalu ia juga selalu meminta tolong pada kita walaupun sebenarnya ia juga bisa mengerjakannya sendiri.” jelasnya panjang lebar.
“Begitu kah? Ah. Baiklah. Terima kasih.”
Bel tanda waktu istirahat telah habis berbunyi. Aku bergegas meninggalkan kantin dan menuju kelas. Tch. Waktu-waktu yang membosankan itu akan dimulai lagi. Pelajaran berlangsung seperti biasa. Anak-anak yang memang aktif dan memiliki kemampuan adaptasi sosial yang tinggi memonopoli semua pertanyaan yang diberikan oleh guru. Sedangkan aku? Aku hanya mendengarkan musik dari headphoneku. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Aku juga tidak terlalu peduli dengan nilai akademik. Yang aku tahu aku bisa bertahan hidup di sekolah ini tanpa mendapatkan ranking 10 terbawah. Tapi kenyataannya aku selalu mendapat ranking 3 besar. Tuhan terlalu baik untuk mengabulkan keinginan manusia sepertiku.
———–
Bulan demi bulan berlalu. Rutinitas yang membosankan itu ku lalui tanpa tantangan atau halangan. Soal adik? Ah, aku tak menaruh peduli pada itu. Ibu sering mengambil cuti hanya untuk kontrol ke dokter. Entah iblis apa yang merasukiku hingga aku sangat acuh pada janin dalam perut Ibu itu. Mungkin tidak sepenuhnya salah Ibu hal itu bisa terjadi. Karena aku hanya menggunakan satu referensi mengenai ‘adik’, yaitu pendapat dari Yukita.
Sore itu aku sedang duduk-duduk di teras bersama Yukita. Seperti biasa, ia menceritakan banyak hal tentang kehidupan berwarna pelanginya. Tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Dengan cepat aku berlari menuju kamar mandi. Tapi tiba-tiba… BRAKK!! Sial. Aku menabrak sesuatu. Dengan kesal aku hendak memeriksa apa yang menabrakku. Ternyata Ibu yang tergeletak dengan begitu banyak darah keluar. Keringatnya bercucuran, ia mengerang begitu keras. Yukita yang mendengar erangan Ibu berlari menuju sumber suara.
“Ibu! Ibu! Argh.. Maafkan aku. Aku.. aku.. aku harus menelepon Ayah!” dengan cepat aku mengambil handphone yang memang selalu tersedia di dalam sakuku. Yukita begitu panik dan mulai menangis. Ahh.. ia membuat situasi bertambah runyam.
“Nisti… bagaimana ini?? Tante.. Tante.. mengapa ada banyak sekali darah?… Bagaimana jika—“
“Diamlah! Jika kau terus berisik aku takkan bisa berpikir dengan jernih! Halo? Halo? Ayah? Cepat datang ke rumah! Ibu.. mengeluarkan banyak darah! Apa yang harus aku lakukan?” teriakku di telepon. Sial! aku kehilangan kontrol emosiku. Aku panik, bingung, dan… Ah. Entahlah!
————
“Untuk keluarga Ibu Elisa telah diperkenankan untuk masuk” kata perawat berumur sekitar dua puluh itu kepada kami.
Aku dan ayah pun perlahan memasuki ruangan itu. Ibu tergolek lemah dengan banyak selang dan alat yang dipasang di tubuhnya. Apa ini? Seperti di drama. Aku tahu ini merupakan pertanda buruk. Hanya ku pandangi Ibuku. Wajah cantiknya kini berubah pucat pasi. Bibirnya tidak bisa menampakkan senyum padaku karena tertutup oleh benda transparan yang aku tahu untuk membantu pernafasan. Tidak terasa air mataku menetes. Apa yang telah ku lakukan? Kesalahan macam apa ini? Aku merasa… menjadi seorang pendosa yang takkan bisa termaafkan walaupun aku mengabdi kepada Tuhan seumur hidupku.
Ayah dipanggil oleh dokter yang memeriksa Ibu. Aku tahu tujuannya adalah untuk memberitahukan keadaan Ibu. Hatiku berteriak pada Tuhan semoga kabar baik yang ia sampaikan. Namun iblis itu kembali datang dan memberitahuku bahwa janin itu… akan… Sungguh aku ingin membunuh iblis hina itu.
“Ayah, apa katanya? Bagaimana keadaan Ibu? Ibu baik-baik saja bukan?” aku menyerang Ayah dengan sederet pertanyaan yang mengganjal hatiku. Ayah tersenyum.
“Jangan khawatir. Tidak akan ada yang berubah. Kita hanya perlu merawat Ibu dengan baik” ucap Ayah lirih dengan senyumnya yang aku tahu… itu palsu.
“Apa maksud Ayah?! Katakan dengan jelas! Ibu baik-baik saja bukan?! Dan.. Adik? Ia juga—“
“Kau pasti senang dengan kabar ini, Nisti. Adikmu telah pergi jauh bahkan sebelum ia tiba. Memang itu yang kau inginkan bukan? Ini merupakan kabar gembira. Kau tidak perlu mengeluh lagi soal kehadiran orang lain di hidupmu yang sendiri itu.”
Apa? Apa maksud ayah? Pergi sebelum tiba? Apa? Kabar gembira bagiku? Apa yang telah ku lakukan selama ini? Aku.. telah menjadi orang paling hina di dunia ini.
“Bayiku.. ia tidak apa-apa bukan?” samar-samar suara Ibu berdengung di telingaku. Sontak aku menoleh dan memandanginya. Ayah berlari menujunya dan menggenggam tangannya erat.
“Ibu.. tenanglah—“
“Ayah.. katakan! Katakan bahwa anak kita baik-baik saja!”
“Maaf, Elisa.. Tapi ia sudah pergi.”
“Apa?!?!?!? Itu tidak mungkin! Jangan membohongiku!”
Air mata Ibu mengalir begitu deras. Air matanya.. aku ingin menghentikannya. Tapi apakah bisa? Dengan tubuh dan pikiranku yang sudah lebih rendah dari binatang ini? Ibu menoleh dengan cepat ke arahku.
“Ini semua salahmu! Setiap malam kau pasti berdoa agar janin ini hilang bukan?! Kini kau bisa tertawa! Keinginanmu bisa terwujud!” bentak Ibu tanpa menghentikan air matanya yang mengalir deras.
“Tidak.. Ibu.. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Aku tidak pernah—“
“Diam! Jangan berani kau memanggilku Ibu! Kau bahkan bukan anak kandungku!”
“Elisa!!” teriak Ayah menggema. Apa? Apa maksudnya? Aku bukan anak kandung?
“Apa maksud Ibu?” tanyaku heran.
“Diamlah Ayah! Ini saatnya dia tahu bahwa ia bukan anak kandungku. Tapi hasil perselingkuhanmu dengan kakakku! Sudah lima belas tahun ini menjadi aib keluarga. Aku selalu mencoba menyayanginya sebisaku seperti anakku sendiri karena aku pun merasa bersalah tidak bisa memberimu keturunan. Tapi sekarang… sekarang aku takkan memberikan kasih sayangku pada anak congkak ini! Setelah sekian tahun aku menanti kehadiran anak kandungku, tapi anak haram ini malah menentang kodrat! Kehadiranmu di dunia ini adalah sebuah kesalahan! Keberadaanmu pun adalah sebuah dosa besar! Kau memang—“. Belum selesai Ibu melontarkan caciannya padaku, ia terlihat kesakitan. Ayah dan aku berlari untuk menenangkannya. Namun saat jariku menyentuhnya, Ibu langsung menghempaskannya.
“Jangan sentuh aku dengan tangan hinamu!” bentak Ibu.
Entah mengapa kakiku berlari keluar ruangan. Aku terus berlari dan berlari. Apa maksudnya? Aku bukan anak kandung Ibu? Aku anak haram? Aku anak hasil hubungan gelap ayahku dan kakak ibuku? Kehadiranku adalah sebuah dosa? Aku adalah keberadaan yang tak diinginkan? Kenyataan macam apa ini?!
Samar-samar ku dengar suara Yukita memanggil namaku. Ah, aku mulai membenci namaku. Aku menoleh padanya.
“Apa yang terjadi? Mengapa kau berlari? Mengapa kau menangis? Mengapa kau—“. Aku reflek memeluknya. Aku tak tau apa yang gadis ini katakan. Aku tak mau mendengarnya. Aku tak mau ia mengungkap lebih banyak kelemahanku. Aku tidak ingin mengingat betapa hinanya aku terlahir di dunia ini.
“Yukita, aku punya satu permintaan” kataku lirih dengan tanganku masih memeluknya dengan erat.
“Eh? Apa itu? Aku akan mengabulkannya sebisaku. Itu pasti! Aku akan membantumu. Walaupun aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku pasti akan—“
“Bunuh aku” jawabku singkat.
“Apa????? Kau sudah gila? Aku tidak mungkin—“ suara nyaringnya berdengung dengan keras di telingaku. Aku tidak mau banyak bicara dan akhirnya aku mengeluarkan pisau dari sakuku yang biasa ku gunakan untuk perlindungan diri. Ku genggamkan pisau itu di tangannya.
“Jangan banyak bicara! Cepat bunuh aku! Kehadiranku adalah sebuah dosa besar! Aku adalah anak haram! Aku harus—“
“Anak haram? Apa maksudmu?” tanyanya terheran.
“Aku adalah anak hasil hubungan gelap ayahku dan ibumu. Sekarang kau membenciku bukan? Tak apa. Aku juga sangat membenci diriku sendiri. Aku harusnya membunuh diriku sen—“
“Apa yang kau katakan? Bukankan itu tidak terlalu buruk? Kita memiliki hubungan darah. Kau bisa tinggal denganku. Kita bisa bermain bersama dan—“ Yukita menangis. Ku renggangkan pelukanku, ku pandangi wajahnya. Ia tersenyum. Senyu itu terlihat begitu menyakitkan, begitu hancur, begitu terpaksa. Aku tahu itu. Betapa bodohnya aku. Kenyataan ini tidak hanya pahit bagiku. Tapi juga baginya. Aku tahu hatinya hancur. Tapi ia masih tersenyum. Ia berusaha menenangkanku. Ia menutupi kelemahan dan kehancurannya.
“Maafkan aku. Aku takkan lari dari kenyataan ini. Aku akan menghadapinya. Terima kasih Yukita. Terima kasih”. Aku tersenyum dan melepas pelukanku.
Aku berjalan kembali menuju rumah sakit. Kini aku akan menghadapi kenyataannya. Ku genggam tangan Yukita. Tibalah aku di depan kamar Ibu. Aku tahu semua resikonya. Aku akan dibentak, dicaci, dipermalukan. Tapi aku sudah mempersiapkannya. Ku lepaskan tangan Yukita perlahan. Aku melangkah masuk. Ku lihat Ibu yang berbaring lemah dengan Ayah yang masih setia berada di sampingnya. Baru selangkah aku memasuki ruang itu, dengan cepat Ibu menoleh ke arahku.
“Masih berani kau muncul di hadapanku?!” bentak Ibu. Ayah kaget dan melangkah menujuku. Ia berusaha menggiringku keluar. Namun aku menolaknya.
“Aku tidak akan lari dari kenyataan, Ayah. Aku akan menghadapinya. Ibu, aku tahu Ibu sangat membenciku. Bahkan tidak sudi ku panggil Ibu. Tapi kali ini biarkan aku bicara. Mungkin keberadaanku di dunia ini memang kesalahan dan dosa. Tapi aku bisa hidup sampai saat ini semuanya berkat Ibu dan Ayah yang telah membesarkanku. Walaupun aku tahu aku bahkan bukan anak kandung Ibu, tapi dengan Ibu membiarkan aku bernafas di dunia ini, merasakan kebahagiaan di dunia yang seharusnya tak membiarkanku hadir, itu sudah cukup membuatku bersyukur. Bahkan jika saat ini Ibu akan membuangku, aku takkan melupakan kebaikan saat Ibu merawatku. Aku hanya ingin berterimakasih. Dan.. maafkan aku.”
Aku berjalan mendekat menuju Ibu. Ku raih tangannya dan ku cium. Namun Ibu menarik tangannya. Aku hanya memandanginya nanar. Ah, aku tahu ini akan terjadi. Aku sudah siap untuk menanggung resiko ini. Aku hanya membalas perbuatan itu dengan senyum.
———
“Aku akan pulang terlebih dulu, Ibuku akan pulang hari ini.” teriakku pada Yukita saat bel pulang sekolah berbunyi.
“Oh, baiklah. Hati-hati di jalan!” jawabnya disertai lambaian tangannya.
Aku berlari pulang dengan hati gembira. Walaupun aku tahu aku takkan bisa membohongi perasaanku bahwa Ibu masih membenciku.
“Aku pulang” dengan gembira aku memasuki rumah itu. Ibu telah menyambutku saat aku masuk. Aku begitu senang. Namun.. ada yang berbeda. Mengapa.. Ibu membawa pisau?
“Ibu? Apa yang Ibu lakukan? Mengapa Ibu membawa pisau? Apa itu akan digunakan untuk mengupas buah?” Ibu semakin mendekat dan mengarahkan pisau itu ke arahku. Aku pun semakin mundur. Apa ini? Mengapa terjadi situasi seperti ini?
“Kau telah membunuh janinku. Anak pertamaku, anak kandungku, nyawaku, belahan jiwaku, dan segalanya! Sekarang kau masih berani menampakkan wajahmu di depan mataku? Hah! Jangan bercanda! Kau harus mati, anak haram!”
Tidak. Ibu akan membunuhku. Aku tidak ingin mati. Tidak. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikannya! Tidak!
“Argh!!!!! Kau..” Apa? Aku mendengar suara teriakan. Mataku terpejam. Seharusnya aku yang mati. Seharusnya aku yang berteriak. Tapi mengapa yang ku dengar adalah suara Ibu? Perlahan ku buka mataku. Telingaku tak bisa mendengarkan apapaun. Yang aku lihat hanya ekspresi Ibu yang kesakitan. Mengapa Ibu kesakitan? Apa yang…. Mataku terbelalak melihat gunting berwarna hitam itu telah menancap di perut Ibu. Itu guntingku. Bagaimana bisa? Ternyata tanganku yang memegangnya. Apa ini? Tidak mungkin! Aku.. membunuh Ibu. Tidak! Dosaku semakin banyak! Aku tidak sanggup menahan semua ini! Lebih baik ku akhiri hidupku!
Muncratan darah itu begitu banyak. Ku pandangi tanganku yang berlumuran darah. Ternyata ini akhirnya. Ya, seorang pendosa biadab sepertiku harus mati dengan cara seperti ini. Dunia ini tidak menerimaku. Ku pandangi dinding rumahku itu. Disini tempat ku di besarkan. Disini pula aku mati. Ini lah yang benar. Pandanganku semakin buram. Dan.. ah. Gelap. Semuanya hitam. Penderitaan ini…sudah berakhir.
—TAMAT—
ya. sekian cerpen buatanku yang berlatarbelakang untuk mengumpulkan tugas. semoga menghibur. mohon untuk meninggalkan komentar demi meningkatnya kualitas cerpen yang saya buat nanti. terima kasih.. 😀

Pengaruh Kebudayaan Bacson-Hoabinh dan Sa Huynh di Indonesia

Standard

Kali ini aku masih membahas tentang sejarah, yaitu pengaruh kebudayaan Bacson-Hoabinh dan Sa Huynh di Indonesia.

Pengaruh budaya Bacson-Hoabinh terhadap perkembangan budaya masyarakat awal kepulauan Indonesia merupakan suatu budaya besar yang memiliki situs-situs temuan di seluruh daratan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pengaruh utama budaya Hoabihn terhadap perkembangan budaya masyarakat awal kepulauan Indonesia adalah berkaitan dengan tradisi pembuatan alat terbuat dari batu. Beberapa ciri pokok budaya Bacson-Hoabinh ini adalah pembuatan alat kelengkapan hidup manusia yang terbuat dari batu. Batu yang dipakai untuk alat umumnya berasal dari batu kerakal sungai. Alat batu ini telah dikerjakan dengan teknik penyerpihan menyeluruh pada satu atau dua sisi batu. Hasil penyerpihan menunjukkan adanya keragaman bentuk. Ada yang berbentuk lonjong, segi empat, segi tiga dan beberapa diantaranya ada yang berbentuk berpinggang. Pengaruh budaya Hoabihn di Kepulauan Indonesia sebagian besar terdapat di daerah Sumatra. Hal ini lebih dikarenakan letaknya yang lebih dekat dengan tempat asal budaya ini. Situs-situs Hoabihn di Sumatra secara khusus banyak ditemukan di daerah pedalaman pantai Timur Laut Sumatra, tepatnya sekitar 130 km antara Lhokseumawe dan Medan. Sebagian besar alat batu yang ditemukan adalah alat batu kerakal yang diserpih pada satu sisi dengan bentuk lonjong atau bulat telur. Dibandingkan dengan budaya Hoabihn yang sesungguhnya, pembuatan alat batu yang ditemukan di Sumatra ini dibuat dengan teknologi lebih sederhana. Ditinjau dari segi perekonomiannya, pendukung budaya Hoabihn lebih menekankan pada aktivitas perburuan dan mengumpulkan makanan di daerah sekitar pantai.

Kebudayaan Sa Huynh adalah kebudayaan pantai dan berkembang di akhir zaman logam, sekitar 600 SM – 1 M. Kebudayaan Sa Huynh adalah saksi bisu dari pada keberadaan tiga periodasi zaman logam yang pernah terjadi. Teknologi yang digunakan Kebudayaan Sa Huynh untuk membuat logam dicurigai merupakan hasil perkenalan dan pengaruh dari kebudayaan China. Benda perunggu yang ditemukan di wilayah Sa Huynh  berupa seperti gelang dan lonceng. Dua benda logam tersebut disinyalir ikut mempengaruhi kebudayaan dan keberadaan lonceng dan gelang di Indonesia.

Tiga Teknik Pembuatan Logam pada Masa Kebudayaan Dongson

Standard

Postinganku kali ini akan membahas tentang sejarah, yaitu tiga teknik pembuatan logam pada masa kebudayaan Dongson

  1. Teknik Bivalve (cetak setangkup)
    Dalam teknik ini digunakan cetakan batu atau tanah liat sebagai medianya yang terdiri dari dua bagian, kedua bagian cetakan terlebih dahulu disesuaikan dengan benda yang akan dibuat. Kedua bagian itu ditangkupkan menjadi satu yang menyisakan lubang sebelum logam dituang. Satu lubang untuk tempat menuang logam sedangkan lubang yang lainnya untuk jalan udara yang keluar dari cetakan saat logam dituangkan. Setelah dingin maka cairan logam tersebut akan mengeras dan membeku.
  2. Teknik a cire perdue (teknik cetak lilin hilang)
    Pertama-tama yang dilakukan adalah membuat model dari lilin terlebih dahulu sebelum benda itu dicetak, kemudian model lilin ini dibungkus dengan tanah liat dan dibakar. Lilin akan mencair keluar melalui lubang yang sudah dibuat, sedangkan tanah akan mengeras. Cetakan tanah liat yang berongga ini kemudian dituangkan cairan logam. Setelah dingin, cetakan dipecah untuk mengeluarkan benda logamnya. Cetakan ini hanya dapat digunakan sekali saja. Pada cetakan dengan menggunakan teknik ini mempunyai cacat akibat tidak rapatnya saat penutupan cetakan itu.
  3. Cetakan rakitan
    Pada prinsipnya, teknik dalam pembuatan rakitan sama dengan cetakan setangkup, tetapi cetakan ini mempunyai bagian yang terpisah-pisah. Sebelum digunakan, cetakan ini dirakit terlebih dahulu, teknik ini biasanya digunakan untuk mencetak bejana-bejana perunggu yang berukuran besar.

Kebudayaan Harakiri

Standard

Setelah kurang lebih satu tahun saya tidak posting, kali ini saya akan membuka postingan pertama di tahun 2014 dengan kebudayaan Jepang yang lumayan mengerikan, yaitu Harakiri.

hrkr2

  1. Definisi
    Seppuku (切腹) merupakan salah satu adat para samurai, terutama jenderal perang pada zaman bakufu yang merobek perut mereka dan mengeluarkan usus mereka agar dapat memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas.Seppuku lebih dikenal dengan istilah harakiri (腹切り, “merobek perut”) yang juga ditulis dengan huruf kanji sebagaimana penulisan pada seppuku. Pada tradisi jepang, istilah seppuku lebih formal. Harakiri merupakan istilah yang secara umum dikenal dalam bahasa inggris, dan sering kali disalah-tuliskan dengan “hari kari”.

    Seppuku adalah bagian dari kode kehormatan bushido, dan dilakukan secara sukarela oleh samurai yang menginginkan mati terhormat daripada tertangkap musuh (dan disiksa), atau sebagai bentuk hukuman mati untuk samurai yang telah melakukan pelanggaran serius, atau dilakukan berdasarkan perbuatan lain yang memalukan.

  2. Sejarah Singkat
    Budaya harakiri mulai terkenal pada zaman keshogunan kamakura.Kebanyakan pihak berkuasa yg kehilangan pangkat atau tidak mau dipermalukan apabila jatuh ke tangan musuh juga memilih harakiri untuk membunuh diri. Budaya ini berterusaan sehingga zaman peperangan.Setelah bermulanya zaman endo, pemerintah sosial agak stabil. Namun, budaya harakiri pula semakin berkembang. Walaupun pihak kerajaan melarang perbuatan bunuh diri, tapi ia masih tidak dapat dihalang.

    Secara umumnya, ramai orang yg menganggap bahwa roh manusia berada dlm perut sendiri. Karena itu demi menunjukkan roh sendiri kepada orang ramai, samurai melakukan harakiri sebagai cara dan upacara menunjukkan kepada orang ramai.

    Budaya harakiri ialah cara membunuh diri yg mula berkembang pada zaman heian. Minamoto no tametomo dianggap sebagai orang yg paling awal membunuh diri dengan cara harakiri.

    Pada zaman jepang purba, jika samurai dijatuhkan hukman mati atas arahan tuan, harakiri dianggap sebagai cara kematian yg mulia berbanding dengan pancung kepala.

    Sejak zaman perperangan Jepang hingga permulaan zaman edo, mereka yang melakukan harakiri tidak memerlukan bantuan kaishakunin. Mereka terus memotong perut sendiri sehingga membentuk bentuk bersilang, organ dalam pecah sehingga mati karena kehilangan darah. Cara memotong ini dikenal sebagai ”cara pemotongan bersilang”.

    Pada perubahan modern menganggap bahwa apabila ujung pisau terkena pada organ dalam, seseorang itu pasti kehilangan rasa. Orang terakhir yg mengunakan cara pemotongan bersilang adalah nogi maraesuke pada tahun 1912.

  3. Motif Harakri : Harga diri, malu, balas dendam, Keadaan ekonomi yang tidak baik (alasan terbanyak karena kehilangan pekerjaan/ bukan karena kemiskinan).

  4. Ritual Harakiri
    Upacara harakiri ini telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya. Sebelumnya orang melakukan harakiri harus mendapatkan seorang pendamping sebagai asisten yang berfungsi sebagai algojo. Sang algojo ini mendapatkan tugas untuk memancung kepala dari orang yang melakukan harakiri. Seorang yang akan melakukan harakiri, dilarang mengeluh, mengerang, mengaduh ataupun memperlihatkan wajah nyeri ataupun takut pada saat ia mau mati. Ia harus mati dengan tabah dan gagah. Untuk menghindari terjadinya hal ini, maka setelah sang pelaku harakiri menusukkan pisau ke perutnya, maka sang algojo harus segera memancung kepalanya dengan samurai. Dengan demikian ia bisa mempercepat proses kematian dan tidak perlu menderita. Asisten pembunuh ini lebih lazim dengan sebutan kaishaku-nin. Ilmu memancung kepala dengan cepat dan baik ini bisa dipelajari dan disebut seiza nanahome kaishaku.

    hrkr1

    Para pelaku harakiri selalu mengenakan baju putih yang melambangkan kebersihan dan kesucian.  Mereka menusuk perutnya dengan menggunakan pisau kecil berukuran 30 s/d 60 cm yang disebut wakizashi atau tanto yang kemudian dibungkus dengan kertas putih. Pisau tersebut ditusukan keperut 6 cm dibawah pusar yang disebut tanden.  Berdasarkan ajaran zen, disitulah letak pusatnya chi atau letaknya jiwa manusia. Mereka bukan hanya sekedar menusuk begitu saja melainkan harus dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah agar perutnya bisa benar-benar robek dan ususnya keluar. Prosedur merobek perut ini disebut jumonji-giri.  Mereka melakukan harakiri disaksikan oleh beberapa orang, bahkan oleh anggota keluarganya sendiri dan juga oleh bikshu shinto.

    tanto
    Tata cara memotong perut memiliki aturan yang disesuaikan dengan seberapa besar seseorang yang akan ber-harakiri melakukan kesalahannya. Bila seorang samurai merasa kesalahannya biasa, namun menganggap hanya dapat ditebus dengan jalan harakiri, maka ia akan melakukan harakiri dengan cara memotong perut dari kiri ke kanan. Bila seorang samurai merasa kesalahannya begitu besar, maka ia akan melakukannya dengan cara memotong perut dari kiri ke kanan, kembali ke tengah, lalu ke atas membelah ulu hati. Bila ia masih merasa bersalah dan sulit untuk menebus kesalahannya dengan apa pun, maka kesalahan hanya dapat ditebus dengan cara melakukan harakiri dengan cara terakhir, yaitu dipenggal kepalanya oleh seorang kaishaku-nin . Sebelum mereka harakiri mereka menulis puisi kematian atau death poem (jisei no ku).

    Ada sebuah perkataan dari seorang samurai, Hagakure, pada kurun abad ke- 18, yang terkandung dalam hukum ihwal kematian. Petikan berikut ini merupakan isi buku hagakure : “kita semua mau hidup. Dalam kebanyakan perkara, kita melakukan sesuatu berdasarkan apa yang kita suka. Tetapi, sekiranya tidak mencapai tujuan kita dan terus untuk hidup adalah sesuatu tindakan yang pengecut. Tiada keperluan untuk malu dalam soal ini. Ini adalah jalan samurai (bushido). Jika sudah ditetapkan jantung seseorang untuk setiap pagi dan malam, seseorang itu akan hidup walaupun jasadnya sudah mati. Dia telah mendapat kebebasan dalam jalan tersebut. Keseluruhan hidupnya tidak akan dipersalahkan dan dia akan mencapai apa yang dihayatinya.”.

    Harakiri tidak dilakukan oleh kaum pria saja melainkan juga para samurai wanita meskipun jarang yang bertarung di medan perang namun para wanita ini terlatih dalam menggunakan kaiten (belati jepang) & naginata, yang akan mereka gunakan untuk bunuh diri atau menyerang musuh dengan menjadikan diri mereka sebagai anak panah hidup (living spear). Akan tetapi, ritual harakiri bagi kaum wanita dilakukan dengan cara yang berbeda dan harus meminta izin terlebih dahulu. Harakiri tersebut dikenal dengan istilah jigai. Dalam ritual ini, mereka tidak menusukkan pisau ke perut melainkan dengan memotong tenggorokannya atau dengan menusuk jantung menggunakan pisau/jepit rambut yang panjang dan tajam.

  5. Sikap Teladan dari Harakiri
    • Sungguh-sungguh, pada zaman bakufu, adanya ajaran bushido yang berkaitan dengan hara-kiri, masyarakat khususnya samurai dalam mengemban tugas sangat bersungguh sungguh. Kesungguhan ini dapat terlihat dengan jelas melalui cara kerja samurai pada masa itu, hal ini juga nampak pada pekerja jepang zaman ini, etos kerja dan royalitas pada perusahaan tidak perlu diragukan lagi.
    • Bertanggung jawab, hara-kiri yang seyogyanya sebagai simbol permintamaafan karena gagal mengemban tugas, menjadikan samurai memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Bagi mereka, lebih baik mati daripada tidak bertanggung jawab atas kegagalan yang telah dilakukannya.
    • Kesetiaan, hara-kiri, merupakan bukti kesetiaan yang mengajarkan para samurai untuk setia terhadap tuannya dan negara.
    • Keberanian, hanya orang-orang yang mempunyai keberanian yang mampu melakukan hara-kiri. Oleh karena itu, pada zaman bakufu, masyarakat jepang khususnya samurai, mempunyai keberanian yang sangat besar, dikarenakan ajaran bushido dan keteguhan hati para samurai.

Referensi:

–          http://indoculture.wordpress.com/2012/11/10/kebudayaan-seppuku-harakiri-di-jepang/

–          http://www.scribd.com/doc/97215017/Kebudayaan-Harakiri-Dalam-Sudut-Pandang-Masyarakat-Modern

–          http://id.wikipedia.org/wiki/Seppuku

–          http://inspiration135.blogspot.com/2005/07/harakiri.html

http://infocs75-harakiri.blogspot.com/

9 Formula dalam Microsoft Excel 2007

Standard

setelah membahas tentang bahasa Indonesia (puisi), PLH (penjernihan air), sekarang kita beranjak ke ilmu TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yaitu tentang beberapa rumus/formula dalam Microsoft Excel 2007. rumus berikut adalah:

  • MOD = menghitung sisa hasil pembagian –> MOD(23,7) = 2
  • PRODUCT = mengalikan bilangan –> PRODUCT(3,4) = 12
  • SQRT = menghitung akar kuadrat –> SQRT(36) = 6
  • POWER = memangkatkan bilangan –> POWER(3,2) = 9
  • ABS = menguubah bilangan negatif menjadi bilangan positif, tapi bilangan positif tidak akan berubah –> ABS(-21) = 21
  • ROUND = menentukan pembulatan dengan angka desimal yang ditentukan –> ROUND(22.3333) = 22.3
  • INT = menentukan nilai pembulatan dengan tidak menghiraukan angka di belakangnya –> INT(12.333331) = 12
  • COUNT = menentukan jumlah sel (hanya data numerik) –> COUNT(C5:C10) = 6
  • COUNTA = menentukan jumlah sel (hanya data tabel/teks)

nah. mungkin cukup sekian saja postinganku kali ini, semoga bermanfaat 😀

Penjernihan Air

Standard

setelah postinganku yang berhubungan dengan bahasa Indonesia yaitu puisi, sekarang aku akan membahas tentang cara penjernihan air yang lebih mengarah pada ilmu Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) :D. penjernihan air ini dilakukan agar kita bisa lebih menghemat penggunaan air dengan cara mengolah kembali air yang keruh. tapi proses penjernihan air ini hanya sebatas menjernihkan air, dan bukan membunuh serta kuman-kumannya. sehingga air yang dihasilkan dari proses penjernihan air ini tidak bisa langsung diminum atau dikonsumsi :D. berikut cara pengerjaannya:

  • Alat dan bahan

–          Botol air mineral 1,5 liter

–          Pasir

–          Ijuk

–          Kapas

–          Cutter

–          Kerikil

–          Air keruh

  • Cara kerja

–          Siapkan botol aqua 1,5 liter

–          Potong botol menjadi dua bagian menggunakan cutter

–          Siapkan pasir, ijuk, kerikil, dan kapas secukupnya

–          Bersihkan bahan tersebut sampai bersih

–          Susun bahan di botol aqua dengan susunan dari bawah: kapas, ijuk, pasir, kerikil

–          Tuangkan air keruh di atas bahan yang telah disusun

–          Amati hasil penyaringan

sekian dulu dari postinganku kali ini :D, semoga bermanfaat :3

Puisi “Anugrah Kehidupan”

Standard

Di sekolah ada tugas membuat puisi. jadi sekalian buat ngisi blog, aku posting aja disini. maafkan atas segala kekurangan puisinya.

Anugerah Kehidupan

Air…

Tetesanmu anugerah kehidupan

Bening ragamu menitih samudera

Suci jiwamu merangkai lautan

Jelajah alam tanpa jera

Kini dikau tlah berduka

Kalbumu tercabik oleh mereka

Mereka yang hina khianati amanat Tuhan

Meramu sengsara bagi anugerah kehidupan

Jangan..!! Jangan..!!

Kau khianati pinta Tuhan

Tuk setia menjaganya

Tuk merawat anugerah-Nya

NASA Segera Luncurkan Satelit Mini Berbasis Android

Standard

NASA (National Aeronautics and Space Administration) akan meluncurkan satelit mini berbasis OS (Operating System) Android yang memang dipersiapkan untuk program PhoneSat. Sebagai otak komputer dari program ini, NASA memakai handphone Nexus pada satelit tersebut. satelit ini terbilang mini karena memang ukurannya yang kecil, yaitu 10 centimeter kubik. pembuatan satelit ini menghabisakan biaya sejumlah US$ 3.500

NASA juga telah membagi satelis ini menjadi dua versi, yaitu PhoneSat 1.0 yang menggunakan handphone Nexus One dan PhoneSat 2.0 yang memakai hanphone Nexus S.

PhoneSat 1.0 memiliki prosesor 1 GigaHertz yang menjadi komputer utama. Sensor orientasi yang biasanya menggunakan giroskop kini berganti dengan akselerometer yang terpasang di dalam ponsel. Kamera 5 Megapixel pada ponsel diandalkan untuk memantau permukaan bumi sekaligus mengirimkan citra ke pusat kendali. Tujuan utama satelit PhoneSat 1.0 adalah untuk uji daya tahan satelit.

Sedangkan PhoneSat 2.0 dipasangi radio komunikasi yang bekerja dua arah pada frekuensi S-band. Tambahan radio ini membuat insinyur di pusat kendali bisa mengarahkan satelit dari bumi. Satelit generasi kedua ini juga dilengkapi panel surya yang memungkinkan peralatan bekerja dalam waktu lama. Pemantauan posisi juga bisa dilakukan karena satelit dilengkapi penerima sinyal GPS. Orientasi satelit di angkasa dikoreksi melalui kumparan khusus yang memantau medan magnet bumi. Satelit PhoneSat 2.0 ini juga diharapkan menjadi batu pijakan pembangunan wahana angkasa murah dan kecil di masa depan. Misi satelit ini tak main-main, yaitu memantau aktivitas matahari melalui jaringan sensor yang disebar pada banyak satelit nano (sebutan untuk satelit berukuran kecil).

Misi yang melibatkan jaringan satelit nano akan dilakukan pada 2013 nanti. Jaringan satelit ini bisa mengubah pandangan peneliti yang selama ini menganggap pemantauan matahari dari angkasa membutuhkan biaya besar. Ponsel pintar yang ditanam pada wahana angkasa juga diharapkan bisa memuluskan misi penjelajahan bulan, asteroid, dan planet lain di masa depan. Sebagai langkah awal, NASA siap meluncurkan dua PhoneSat 1.0 dan satu PhoneSat 2.0 akhir tahun nanti. Satelit akan ditumpangkan pada roket Antares lalu dilepaskan pada ketinggian beberapa ratus kilometer.

25 Fruit Facts

Standard

  1. In Kerala in South India, coconut flowers must be present during a marriage ceremony
  2. research shows that eating apples may reduce the risk of many kinds of cancer
  3. Most of the vitamin C in pears is found in the skin of the fruit
  4. Apple seeds are mildly poisonous, but not enough to be dangerous to humans
  5. Japanese plums actually originated in China
  6. The bigger the “navel” in a navel orange, the sweeter it will be
  7. oranges are technically a hesperidium, a kind of berry
  8. the prickly pear is actually a type of cactus and considered a noxious weed in Australia
  9. pear trees are able to withstand temperatures as low as -48 degrees Celsius
  10.  watermelons are 92% water
  11. Apples have almost 5 times the antioxidant capacity of bananas
  12. there are more than 20 billion coconuts harvested each year
  13. the purple fruited species of passion fruit self-fertilizes
  14. the average strawberry has around 200 seeds
  15. oranges are the most commonly grown tree fruit in the world
  16. mangoes can be ripened quickly by placing them in a paper bag with a ripe banana
  17. plums are grown on every continent on earth (except Antarctica)
  18. if you plant a single orange seed, you will probably get more than one plants
  19. two thirds of the fiber in apples is found in the skin
  20. bananas can help fight depression, as they increase levels of serotonin
  21. the science of apple growing is called pomology
  22. it takes the energy from 50 leaves to produce one apple
  23.  lemon and salt can be used to treat rust spots, and to clean copper pots
  24. lemons contain more sugar than strawberries
  25. tomatoes, peas, and string beans are technically fruits

Andy Rubin, sang Pencipta Android

Standard

Andy Rubin lahir pada tanggal 22 Juni 1946 di New Bedford, Amerika Serikat. Dia adalah pengembang dari Android OS. Sejak kecil, Rubin sudah terbiasa melihat banyak gadget baru. Ini karena ayahnya, seorang psikolog yang banting setir ke bisnis direct marketing, menyimpan produk elektronik yang akan dijualnya di kamar Rubin. Ia memiliki minat besar pada segala hal yang berbau robot. Di Carl Zeiss A.G., tempat pertama kali ia bekerja setelah lulus kuliah, Rubin ditempatkan di sebuah divisi robotika, tepatnya pada komunikasi digital antara jaringan dengan perangkat pengukuran dan manufaktur. Setelah dari Carl Zeiss, ia sempat bekerja di bidang robot di sebuah perusahaan di Swiss.

Karier Rubin di bidang robotika nampaknya semakin cerah, namun hidupnya berubah gara-gara liburan di Cayman Island pada tahun 1989. Saat sedang mengunjungi kepulauan tropis di Jamaika itu, Rubin tak sengaja bertemu dengan seorang bernama Bill Caswell. Pria ini sedang tidur di tepi pantai, terusir dari sebuah cottage setelah bertengkar dengan pacarnya. Andy menawarkan pria itu tempat tinggal dan sebagai balas budi, Casswell menawarkannya pekerjaan. Kebetulan yang menakjubkannya adalah pria itu bekerja di Apple. Di Apple, Rubin mengalami masa-masa yang menyenangkan. Pada saat itu, Apple masih dalam kondisi baik berkat komputer Macintosh. Budaya Apple pun menular pada diri Rubin. Di sana ia sempat melakukan kejahilan, seperti memprogram ulang sistem telepon sehingga ia bisa berpura-pura sebagai sang CEO, John Sculley. Lelucon seperti itu mungkin akan disukai Steve Jobs, pria yang gemar membuat lelucon lewat telepon, namun ketika itu adalah periode Apple tanpa Jobs.

Dari bagian manufaktur, Rubin pindah ke bagian riset di Apple. Kemudian, pada tahun 1990, Apple melakukan spin off untuk membentuk sebuah perusahaan bernama General Magic dan Rubin ikut di dalamnya. General Magic berfokus pada pengembangan perangkat genggam dan komunikasi. Para engineer yang gila kerja, termasuk Rubin tentunya, berhasil mengembangkan sebuah peranti lunak bernama Magic Cap. Sayangnya, Magic Cap tidak mendapat sambutan dari perusahaan handset dan telekomunikasi. Beberapa yang menerapkan Magic Cap hanya melakukannya sebentar. General Magic pun akhirnya hancur.Beberapa pengembang di General Magic, bersama beberapa veteran Apple, kemudian mendirikan Artemis Research. Perusahaan ini mengembangkan sesuatu bernama webTV, sebuah upaya awal untuk menggabungkan Internet dengan televisi. Rubin bergabung dengan Artemis untuk ikut mengembangkan webTV tersebut. Saat Microsoft membeli Artemis, di 1997, Rubin pun ikut bergabung dengan perusahaan raksasa itu. Episode gila khas Rubin kembali terjadi di Microsoft. Rubin membangun sebuah robot yang dilengkapi kamera untuk mengerjai rekan-rekannya. Gilanya, robot itu terhubung ke Internet dan pada satu insiden sempat dibobol oleh pihak di luar Microsoft. Pada tahun 1999, Rubin keluar dari webTV (dan artinya, ia tak lagi menjadi kar­yawan Microsoft). Ia kemudian me­nyewa sebuah toko di Palo Alto, California, dan menyebut toko itu sebagai laboratorium.

Di tempat yang penuh dengan berbagai mainan robot koleksi Rubin, lahirlah sebuah ide untuk produk baru. Bersama beberapa rekannya, Rubin kemudian mendirikan Danger Inc. Sukses diraih Danger melalui sebuah perangkat bernama Sidekick. Aslinya, perangkat ini dinamai Danger Hiptop, namun di pasaran ia dikenal sebagai T-Mobile Sidekick.

“Kami ingin membuat sebuah perangkat, kira-kira seukuran batang cokelat, dengan harga di bawah 10 dolar dan bisa digunakan untuk men-scan sebuah benda serta mendapatkan informasi soal benda itu dari Internet. Lalu, tambahkan perangkat radio dan transmiter, jadilah Sidekick,” tutur Rubin soal Sidekick.

Saat ini, Sidekick memang sudah terlihat usang, namun pada masanya, Sidekick adalah sebuah benda yang ganjil dengan konsep teknologi yang melampaui zaman. Perangkat itu, menurut Rubin, merupakan pengakses data dengan kemampuan telepon. Ketika muncul di pasaran, Sidekick harus menghadapi kenyataan bahwa PDA sedang kehilangan pasar. Namun, Rubin menegaskan bahwa Sidekick bukanlah PDA.

“Seharusnya, orang-orang bukan bertanya apakah ini PDA atau ponsel. Mereka harusnya bertanya, apakah ini platform untuk pengembang pihak ketiga? Ini adalah hal yang baru. Ini adalah untuk pertama kalinya sebuah ponsel dijadikan platform untuk pengembang pihak ketiga,” kata Rubin.

Sekarang, apa yang dikatakan Rubin bukan hal aneh lagi. Lihat saja Apple de­ngan jutaan aplikasi pihak ketiga yang hadir di iPhone. Hal lain yang dilakukan Danger, yang pada masa itu belum terpikirkan, adalah menjembatani antara pembuat handset dengan penyedia jaringan. Danger memutuskan untuk berbagi keuntungan dengan T-Mobile dalam layanan Sidekick. Dengan demikian, Danger tak me­ngandalkan penjualan handset sebagai sumber penghasilan satu-satunya, namun juga dari layanannya. Ini membuat perusahaan pembuat perangkat (Danger) memiliki tujuan yang sama dengan penjual perangkat (operator telekomunikasi T-Mobile).

Rubin meninggalkan Danger pada tahun 2004. Pada 2008, perusahaannya itu dibeli oleh Microsoft. Sang raksasa rupanya tertarik untuk memasuki bisnis ponsel dengan lebih a­gresif lagi. Nilai yang ditawarkan pun tidak tanggung-tanggung. Menurut kabar yang beredar Microsoft membeli Danger de­ngan harga 500 juta dolar. Namun, pembelian Danger oleh Microsoft ternyata tidak membawa hasil yang berbunga-bunga. Para eksekutif yang tersisa dari Danger digabungkan oleh Microsoft ke dalam Mobile Communication Business, dari divisi Entertainment dan Devices. Kemudian, mereka diminta mengembang sebuah ponsel yang dikenal dengan sebutan Project Pink. Targetnya, ponsel ini harus bisa menjadi pesaing iPhone dan BlackBerry. Menurut ComputerWorld, Project Pink menderita penyakit klasik di sebuah per­usahaan besar. Karena proyeknya cukup bergengsi, ia diperebutkan oleh beberapa pihak. Dan lebih parahnya lagi, perkembangannya makin melenceng dari yang diinginkan. Contohnya, awalnya ponsel itu akan dikembangkan dengan basis Java namun kemudian diminta untuk menggunakan sistem operasi Microsoft.

Sayangnya, Windows Phone 7 yang seharusnya bisa digunakan untuk Project Pink, belum siap. Walhasil, saat diluncurkan, ponsel yang akhirnya bernama Microsoft Kin ini menggunakan sistem operasi Windows untuk ponsel yang “lawas”. Sambutan pasar yang dingin pun membuat Kin akhirnya harus ditutup, hanya beberapa bulan sejak diluncurkan. Nasib layanan Sidekick, yang diwarisi Microsoft dari Danger, juga tak terlalu baik. Dalam satu insiden, yang masih belum diketahui pasti apa penyebabnya, pelanggan Sidekick tiba-tiba kehilangan semua data mereka. Satu hal yang perlu diketahui, semua data pada Sidekick memang disimpan ‘di awan’ (dalam hal ini pada server yang dikelola Microsoft dan bisa diakses melalui Internet). Nah, ketika server itu mengalami gangguan, semua data pengguna Sidekick pun lenyap.Pada awal tahun 2002, Rubin sempat memberikan sebuah kuliah di Stanford mengenai pengembangan Sidekick. Karena, meski penjualan Sidekick di pasaran tak meledak, perangkat itu dinilai cukup baik dari sisi engineering. Sebuah kebetulan bahwa Larry Page dan Sergei Brin, pendiri Google, ikut hadir dalam kuliah tersebut. Selepas kuliah, Page menemui Rubin untuk melihat Sidekick dari dekat. Rupanya, Page melihat, perangkat itu menggunakan search engine Google. “Keren,” ujar Page. Ini adalah sebuah titik tolak bagi Page untuk sebuah ide yang dalam beberapa tahun kemudian akan terwujud, sebuah ponsel Google. Kurang lebih dua tahun setelah itu, Rubin telah meninggalkan Danger dan mencoba melakukan hal-hal baru. Termasuk di antaranya mencoba memasuki bisnis kamera digital sebelum akhirnya ia mendirikan Android.

Rubin menginkubasi Android saat ia menjadi enterpreneur-in-residence bersama perusahaan modal ventura Redpoint Ventures di 2004. “Android berawal dari satu ide sederhana, sediakan platform mobile yang tangguh dan terbuka sehingga bisa mendorong inovasi lebih cepat demi keuntungan pelanggan,” ujar Rubin. Pada Juli 2005, 22 bulan setelah Android berdiri, perusahaan itu ditelan oleh raksasa Google. Rubin pun memilih untuk bergabung dengan Google. Ketika membeli Android Inc., Google tidak menyebutkan dengan rinci berapa harga yang dibayarkan dan apa yang i­ngin dilakukannya dengan perusahaan itu. Bahkan, Google menyebut pembelian itu sebagai akuisisi terhadap sumber daya manusia dan teknologinya saja. Selain Andy Rubin, Google memang meraup banyak orang-orang brilian dari Android. Ini termasuk Andy McFadden (pengembang WebTV bersama Rubin, dan juga pengembang Moxi Digital); Richard Miner (mantan Vice President di perusahaan telekomunikasi Orange); serta Chris White (pendiri Android dan perancang tampilan serta interface WebTV).

Bersama Google, Android diberi kekuatan ekstra. Perusahaan asal Mountain View, California itu kemudian membentuk Open Handset Alliance untuk mengembangkan perangkat bagi Android.
“Google tak bisa melakukan segalanya. dan kami tidak perlu itu. Itulah mengapa kami membentuk Open Handset Alliance dengan lebih dari 34 rekanan,” ujar Rubin.
Perangkat Android yang hadir pasaran memang bukan buatan Google. Petarung kelas berat Android termasuk Motorola, Samsung, dan HTC masing-masing melemparkan ponsel Android andalan mereka ke pasaran.
“Sekadar melemparkan peranti lunak tidaklah cukup,” Rubin menjelaskan, “Anda perlu handset yang dikembanglan untuk peranti lunak ini dan penyedia jaringan yang mau memasarkannya.”
Di AS, Motorola Droid jadi salah satu senjata Verizon Wireless melawan AT & T dengan iPhone-nya. Sedangkan Nexus One, ponsel Android Google buatan HTC, hadir tanpa “ikatan dinas” pada satu operator tertentu.
Kehadiran Android nampaknya beru­saha menggoyang dominasi pasar ponsel di AS. Di Indonesia, Android pun nampak siap jadi primadona setelah muncul de­ngan gegap gempita dalam Indonesia Celullar Show 2010.
“Saya tahu bakal ada FUD (fear, uncertainty, doubt). Namun, kami telah melihat beberapa kompetitor mengikuti apa yang kami lakukan. Jadi sepertinya, kami memang di jalan yang benar,” ujar Rubin.
referensi: